BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sultan
Agung Hanyokrokusumo merupakan raja ketiga Kerajaan Mataram Islam. Disebut
Mataram Islam untuk membedakan dengan Mataram Hindu di Jawa Tengah dulu. la
adalah cucu dari Panembahan Senapati (Sutawijaya) dan putra Panembahan Seda ing
Krapyak. Penembahan Senapati yang dilahirkan pada tahun 1591 merupakan pendiri
Dinasti Mataram islam. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya
kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya ditaklukkannya
supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Kerajaan Mataram. Nama aslinya
adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas
Rangsang. Merupakan putra dari pasangan Prabu
Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati. Ayahnya adalah raja
kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran
Benawa raja Pajang. Awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang bergelar
"Panembahan Hanyakrakusuma" atau "Prabu Pandita
Hanyakrakusuma". Kemudian setelah
menaklukkan Madura tahun 1624, ia mengganti gelarnya menjadi
"Susuhunan Agung Hanyakrakusuma", atau disingkat "Sunan Agung
Hanyakrakusuma". Setelah 1640-an beliau menggunakan gelar "Sultan
Agung Senapati ing Ngalaga Abdurrahman". Pada tahun 1641 Sunan
Agung mendapatkan gelar bernuansa Arab. Gelar tersebut adalah "Sultan
Abdullah Muhammad Maulana Mataram", yang diperolehnya dari
pemimpin Ka'bah di Makkah.
Monopoli
perdagangan dan lahirnya VOC sebagai dalih persekutuan dagang bangsa Belanda di
Nusantara telah membawa dampak yang sangat beragam dari sekian banyak kerajaan
yang bertahta di wilayah Nusantara. Konflik kepentingan antara kerajaan
nusantara dengan para pendatang eropa, sedikit banyaknya telah mempengaruhi
pula pada peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi masa mendatang.
Serangan
pasukan Mataram, ke Batavia, 1628 dan 1629 telah menandai perjalanan panjang
konflik kerajaan di Nusantara dengan Belanda dalam hal ini VOC. Berawal dari
hubungan Mataram – Batavia 1613. kontak perdana terjadi ketika 22 september
1613, sebuah kapal Belanda yang berisi utusan Kompeni di bawah pimpinan Jan
Piterszoon Coen merapat di pelabuhan Jepara, dan kemudian Kudus dua pelabuhan
milik Mataram. Maksud dari kedatangan utusan kompeni ini adalah untuk menjalin
kerjasama antara Mataram yang terkenal sebagai penghasil beras dan hasil bumi
lainnya dengan pihak Belanda, dalam hal ini VOC [1].
Soal menyoal konflik yang terjadi antara Mataran dan kompeni akan kita bahas
pada bab tersendiri.
Memahami sejarah dalam ragam perspektif memang sangat sulit. Tak terkecuali
peristiwa sejarah kontemporer sekarang ini, dengan beragam sumber dan sudut
pandang yang berbeda. Namun dalam peristiwa sejarah apapun, kita harus bisa
menempatkan objektivitas di tingkat paling atas untuk menghindari kesalahan
penulisan dan penafsiran sejarah sebagai sebuah peristiwa yang penting. Sejarah
Konflik Mataram dan VOC, menjadi sebuah langkah awal analisis kita dalam
mengkaji lebih dalam urutan peristiwa sejarah dan dampak yang tertimbulkan dari
peristiwa sejarah itu sendiri. Peristiwa ini sedikit banyaknya bisa dijadikan
sebuah acuan dalam menentukan kedudukan kita sebagai masyarakat di nusantara
yang tidak bias lepas dari peristiwa sejarah di masa lampau.
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun
latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan rumusan
masalah sebagai berikut
a. Bagaimana
Jalanya Pemerintahan Sultan Agung di Mataram
?
b. Bagaimana
Jalanya perang Melawan VOC di Batavia ?
c. Bagaimana
dampak dan akir dari perang antara mataram dengan VOC di Batavia ?
C.
TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah
dengan judul perlawanan Sultan Agung Hanyokrokusumo terhadap VOC di Batavia
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui
Jalanya Pemerintahan Sultan Agung di Mataram.
b. Mengetahui
Jalanya perang Melawan VOC di Batavia.
c. Memahami
dampak dari perang antara mataram dengan VOC di Batavia
BAB II
PEMBAHASAN
A. MATARAM
DIBAWAH SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO
Raden
Mas Rangsang naik takhta pada tahun 1613 dalam usia 20 tahun
menggantikan adiknya (beda ibu), Adipati Martapura, yang hanya menjadi
Sultan Mataram selama satu hari. Sebenarnya secara teknis Raden Mas Rangsang
adalah Sultan ke-empat Kesultanan Mataram, namun secara umum dianggap sebagai
Sultan ke-tiga karena adiknya yang menderita tuna grahita diangkat
hanya sebagai pemenuhan janji ayahnya, Panembahan Hanyakrawati kepada
istrinya, Ratu Tulungayu. Setelah pengangkatannya menjadi sultan, dua
tahun kemudian, patih senior Ki Juru Martani wafat karena usia tua,
dan kedudukannya digantikan oleh Tumenggung Singaranu. Ibu
kota Mataram saat itu masih berada di Kota Gede. Pada
tahun 1614 mulai dibangun istana baru di desa Karta, sekitar 5
km di sebelah barat daya Kota Gede, yang kelak mulai ditempati pada
tahun 1618. Sultan Agung (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari
Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah
ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai
gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan
dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan,
gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut
Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar
ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan.
Pesaing
besar Mataram saat itu tetap Surabaya dan Banten. Pada tahun
1614 Sultan Agung mengirim pasukan menaklukkan sekutu Surabaya,
yaitu Lumajang. Dalam perang di Sungai Andaka, Tumenggung Surantani dari
Mataram tewas oleh Panji Pulangjiwa menantu Rangga Tohjiwa bupati Malang.
Lalu Panji Pulangjiwa sendiri mati terjebak perangkap yang dipasang Tumenggung
Alap-Alap. Pada tahun 1615 Sultan Agung memimpin langsung penaklukan
Wirasaba ibukota Majapahit (sekarang Mojoagung, Jombang). Pihak Surabaya
mencoba membalas. Adipati Pajang juga berniat mengkhianati Mataram
namun masih ragu-ragu untuk mengirim pasukan membantu Surabaya. Akibatnya,
pasukan Surabaya dapat dihancurkan pihak Mataram
pada Januari 1616 di desa Siwalan. Kemenangan Sultan Agung
berlanjut di Lasem dan Pasuruan tahun 1616. Kemudian pada
tahun 1617 Pajang memberontak tapi dapat ditumpas. Adipati dan
panglimanya (bernama Ki Tambakbaya) melarikan diri ke Surabaya.
Sultan
Agung menyadari bahwa kehadiran Kompeni Belanda di Batavia dapat membahayakan
kesatuan negara yang dalam hal ini terutama meliputi Pulau Jawa. di samping
VOC, masih ada kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak
berada di bawah kekuasaan Mataram. Langkah pertama untuk menyatukan seluruh
Jawa adalah mengadakan sejumlah penaklukan di daerah Jawa Timur. Oleh karena
itu, Lasem ditundukkan (tahun 1616), disusul Pasuruan (1617) Tuban (1919),
Madura (1624), dan Surabaya (1625). Dengan penguasaan kerajaan-kerajaan pesisir
Jawa Timur untuk sementara dapat dicegah intervensi kekuasaan asing. Untuk
menjaga agar para raja pesisir tidak memberontak dilakukan pohtik
doniestifikasi. Contoh yang dapat dikemukakan adalah ketika Madura dapat ditaklukkan,
Pangeran Prasena yang dikhawatirkan akan memperkuat diri, oleh Sultan Agung
diharuskan tinggal di Kraton Mataram.
Di
kraton, Prasena mendapat perlakuan baik dan dikawinkan dengan putri kraton yang
bernama Ratu Ibu. Baru setelah menunjukkan kesetiaan kepada raja, Prasena
diperbolehkan memerintah Madura dan diberi gelar Pangeran Cakraningrat (I).
Lewat; strategi itu terbina hubungan yang baik dengan berbagai daerah yang
telah ditundukkan. Kerajaan kerajaan yang ditaklukkan itu tidak merasa menjadi "wilayah
bawahan" Mataram, tetapi merasa menjadi mitra yang dipertatungkan bahkan
terbina hubungan kekeluargaan yang baik. Lewat usaha itu sebagian besar wilayah
di Pulau Jawa dapat dibina dan disatukan. Untuk menghancurkan kedua musuhnya di
Jawa Barat, Sultan Agung pernah menawarkan kerjasama dengan VOC untuk
menghancurkan Banten. Setelah Banten hancur, barulah VOC mendapatkan
gilirannya. Tawaran kerjasama itu ditolak oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur
Jendral VOC pada masa itu. Gubernur Jenderal itu rupanya mengetahui bila
sesudah Kerajaan Banten dapat dihancurkan maka kongsi dagang itu akan menjadi
sasaran berikutnya. VOC tetap memelihara pertentangan antara dua kerajaan itu
dan memainkan pengaruhnya di setiap pergantian raja. Raja yang pro VOC akan
didukungnya dengan membayar imbalan berupa penyerahan sebagian tanah kerajaan
kepadanya.
Pada
tahun 1620 pasukan Mataram mulai mengepung
kota Surabaya secara periodik. Sungai Mas dibendung untuk
menghentikan suplai air, namun kota ini tetap mampu bertahan. Sultan Agung
kemudian mengirim Tumenggung Bahureksa (bupati Kendal) untuk
menaklukkan Sukadana (Kalimantan sebelah barat daya)
tahun 1622. Dikirim pula Ki Juru Kiting (putra Ki Juru
Martani) untuk menaklukkan Madura tahun 1624. Pulau Madura yang
semula terdiri atas banyak kadipaten kemudian disatukan di bawah
pimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I.
Dengan
direbutnya Sukadana dan Madura, posisi Surabaya menjadi lemah, karena suplai
pangan terputus sama sekali. Kota ini akhirnya jatuh karena kelaparan pada
tahun 1625, bukan karena pertempuran. Pemimpinnya yang
bernama Pangeran Jayalengkara pun menyerah pada pihak Mataram yang
dipimpin Tumenggung Mangun-oneng. Beberapa waktu kemudian, Jayalengkara
meninggal karena usia tua. Sementara putranya yang bernama Pangeran
Pekik diasingkan ke Ampel. Surabaya pun resmi menjadi bawahan
Mataram, dengan dipimpin oleh Tumenggung Sepanjang sebagai bupati. Setelah
penaklukan Surabaya, keadaan Mataram belum juga tentram. Rakyat
menderita akibat perang yang berkepanjangan. Sejak
tahun 1625-1627 terjadi wabah penyakit melanda di berbagai daerah,
yang menewaskan dua per tiga jumlah penduduknya. Pada
tahun 1627 terjadi pula pemberontakan Pati yang dipimpin
oleh Adipati Pragola, sepupu Sultan Agung sendiri. Pemberontakan ini akhirnya
dapat ditumpas namun dengan biaya yang sangat mahal.
Pada
tahun 1636 Sultan Agung mengirim Pangeran Selarong (saudara
seayah Sultan Agung, putra Panembahan Hanyakrawati dan
selir Lung Ayu dari Panaraga) untuk
menaklukkan Blambangan di ujung timur Pulau Jawa. Meskipun
mendapat bantuan dari Bali, negeri Blambangan tetap dapat dikalahkan pada
tahun 1640.
B.
PERLAWANAN
MENGHADAPI VOC DI BATAVIA
a.
Latar
Belakang
Mataram dan
politik perluasan wilayahnya telah menjadi embrio yang kelak akan membawanya ke
dalam sebuah peperangan yang justru menjatuhkan hegemoninya di hadapan para
daerah taklukannya karena tidak bisa menaklukkan Batavia dibawah kekuasaan VOC,
tapi sebelum kita sampai lebih jauh lagi tentang perang Mataram dengan VOC,
mari kita kupas sedikit tentang hubungan awal Mataram dengan VOC sebelum
konflik.
Seperti yang
sudah tertera pada informasi di atas, bahwa hampir seluruh wilayah Pulau jawa
telah menjadi wilayah kekuasaan Mataram, kecuali Banten, serta Batavia,
yang dikuasai oleh Banten dan VOC. juga daerah Blambangan. Pada tahun 1613,
tepatnya 22 September 1613 serombongan Utusan VOC, yang dipimpin Jan
Pieterszoon Coen merapat di daerah Mataram yang telah menjadi pelabuhan
penting Mataram yaitu, Jepara dan Kudus, utusan tersebut ingin menjalin kerjasama
dengan Mataram dalam hal penyediaan beras karena Mataram terkenal sebagai
penghasil beras. Dalam hal ini Sultan Agung menerima keinginan dan penawaran
kerjasama dari pihak VOC, berdasarkan pertimbangan bahwa persahabatan itu
nantinya akan berguna dalam rangka keinginan Mataram menguasai kota-kota
pelabuhan di sepanjang pantai jawa timur, terutama Surabaya yang terkenal kuat
dalam hal pasukan. Maka didirikan lah Pos perdagangan VOC di Japara tahun 1615.
Dalam perkembangan selanjutnya disamping konflik kepentingan dari kedua belah
pihak, Sultan Agung dipengaruhi oleh saudagar inggris, Sultan Agung mulai
menyadari bahwa kehadiran VOC di wilayah Mataram sangat berbahaya, seperti hal
yang dialami oleh Jayakarta yang sepenuhnya telah berada di bawah kekuasaan
VOC, hal ini tentu bertentangan dengan cita-cita Mataram dalam hal ini Sultan
Agung sendiri untuk meluaskan pengaruhnya di seluruh tanah jawa [2].benih-benih
menuju konflik berkepanjangan mulai terlihat jelas pada saat tentara Mataram
menyerbu kantor dagang VOC di Jepara 1618, serangan ini dipimpin oleh Orang
Gujerat yang meminpin Jepara atas nama Sultan Agung. 3 orang Belanda tewas dan
yang lainnya di tawan, pihak VOC tidak tinggal diam, bulan November tahun itu
juga VOC melakukan pembalasan dengan membakar semua kapal Jawa yang sedang
berlabuh di pelabuhanserta sebahagian besar kota. Tetapi perlu diingat juga
bahwa pada tahun 1618 ketika terjadi paceklik tanaman padi, Sultan Agung pernah
melarang ekspor beras kepada pihak belanda dalam hal ini VOC hal ini tentu
beralasan, konon pihak VOC telah menyamakan Sultan Agung dengan seekor Anjing, dan
juga pihak VOC yang dianggap telah mengotori mesjid Jepara[3],
beberapa fakta sejarah inilah yang akan mengantar Mataram ke dalam
peperangan yang berkepanjangan dengan VOC, hubungan yang semakin memburuk
ditunjukkan dengan tindakan VOC yang membakar jung-jung Mataram di Jepara dan
merebut beras yang ada di dalamnya. Tujuan lain dari penyerangan ini disamping
untuk membalas dendam atas serangan Mataram terhadap pos dagang VOC di jepara
1618, juga untuk merusak kantor dagang Inggris dan untuk membuat orang-orang
cina pindah ke Batavia[4].
Namun pada 1621 personel VOC yang ditawan dikembalikan ke Batavia dan beras pun
dikirim, VOC pun mengirimkan utusan nya kepada Sultan Agung 1622, 1623 dan
1624, hubungan ini tentunya tidak terlepas dari kepentingan Mataram yang
mengharapakan bantuan angkatan laut dari VOC untuk melakukan penaklukan atas
Surabaya, Banten dan Banjarmasin, namun niat Mataram ini ditolak mentah-mentah
oleh VOC, maka habis lah sudah persahabatan dan keinginan kerjasama yang
mutualistis, apalagi setelah Suarabaya berhasil dikuasai 1625, Sultan Agung
telah merencanakan serangan ke Batavia.[5]
b.
Persiapan
dan Jalannya Perang ( serangan pertama ).
Konflik
kepentingan antara ketiga belah pihak yaitu Mataram yang ingin memeperluas
pengaruh dan daerah taklukkan ke seluruh daerah pulau jawa, dengan VOC yang
ingin menambah pundi-pundi keuntungan dari perdagangan mereka di pulau jawa,
serta Benten yang ingin menunjukkan eksistensi kerajaan dan kemajuan
perniagaannya, akan menjadi benang merah, perang yang akan terjadi di
Batavia. Mataram yang cenderung agresif dan bernafsu untuk melengkapi
hegemoninya di pulau jawa, jelas menjadi dilema ketika berhadapan dengan
Banten, dan VOC di Batavia. Sejak tahun 1620 telah disebut-sebut adanya maksud
susuhunan Mataram untuk menyerang Batavia, Susuhunan Mataram pernah diberitakan
mengumpulkan 100.000 prajurit, untuk menyerang Batavia, namun pasukan ini batal
menjalankan misinya karena ada kepentingan kerajaan yang lebih mendesak, 1626
Sultan kembali diberitakan mengumpulkan pasukan sebanyak 900.000 yang akan
dipersiapkjan untuk menyerang orang kafir (VOC) di Batavia, namun misi ini juga
gagal karena pasukan mataram harus memadamkan pemberontakan Pati (1627), namun
jumlah pasukan ini perlu dikaji lebih jauh lagi karena masih adanya perbedaan
interpretasi dari beragam sudut pandang.pertanyaan dari mana pasukan atau
prajurit yang akan berperang melawan VOC di Batavia, akan kita bahas pada sub
bab ini, menurut salah satu sumber buku yang penulis gunakan, bahwa raja
Mataram mengumpulkan kepala daerah bawahan Maataram terutama yang berada di
pesisir yang akan disertakan dalam penyerangan, dikatakan pula bahwa Sultan
agung pernah mengajak banten untuk sama sama menyerang VOC di Batavia, namun
jelas Banten tidak setuju karena khawatir jika Batavia telah dikuasai sasaran
Mataram selanjutnya adalah Banten itu sendiri[6].
Pada tahun 1628 Mataram melakukan serangan pertamanya ke Batavia, April
1628 Kyai Rangga dikirim ke Batavia dengan 14 perahu yang memuat beras,Rangga
ini datang untuk meminta bantuan VOC untuk Mataram yang ingin menyerang Banten,
tapi hal ini ditolak pihak VOC, 22 agustus 1628, 50 kapal mendarat di Batavia,
dengan perlengkapan yang sangat komplit. 2 hari kemudian muncul 7 perahu
meminta izin perjalanan ke Malaka, VOC telah menangkap sinyal serangan yang
akan terjadi maka VOC berusaha tidak mempertemukan kapal yang baru datang
dengan yang terakhir datang, karena dikawatirkan terjadi pertukaran senjata
antar kapal,namun usaha itu gagal, pagi hari 20 buah kapal Mataram menyerang
pasar dan benteng Batavia, banyak korban yang jatuh. Siasat VOC ialah
mengorbankan daerah di sekitar benteng dan membakar kampung di sekitarnya serta
meratakannya dengan tanah, pada waktu tentara Mataram mendekati benteng, sangat
mudah bagi VOC untuk mengusirnya karena tidak ada tempat persembunyian bagi
pasukan Mataram, melihat keadaan ini terpaksa pasukan Mataram menarik diri dari
arena peperangan, dan mengungsi ke daerah yang agak berpohon dan membangun
benteng dari bambu anyaman, tentara mataram membangun parit-parit di sekitar wilayah
peperangan, tetapi VOC mengirim tentara ker parit tersebut dan mengusir tentara
Mataram yang ada di parit tersebut[7].
Diceritakan pula di sumber lain bahwa pada 26 agustus 1628, datanglah pasukan
Mataram ke Batavia dalam jumlah yang besar, sekitar 10.000 pasukan, dengan cara
berbaris mereka mendekati benteng VOC, pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung
Bahureksa( baureksa),pemimpin VOC memerintahkan agar hutan di sebelah selatan
ditebang dan perkampungan sekitarnya dibakar agar gerak-gerik pasukan Mataram
dapat terlacak dengan mudah.Pasukan mataram tidak tinggal diam mereka serta-
merta membangun benteng pertahanan di daerah perang, kubu pertahanan itu
seperti disebutkan di sumber ini terbuan dari tumpukan pohon kela pa dan
tumpukan pohon pisang serta dipagari oleh bambu yang sudah dibelah dua,malam
hari tanggal 10-11 september 1628 pasukan mataram menggali garis pertahanan dan
membuat parit perlindungan, pembangunan kubu pertahanan ini memakan waktu
hingga setengah bulan[8]. di
sumber lain disebutkan juga bahwa Bureksa menulis surat ancama kepada Coen
21septemeber 1628, yang isinya dalam waktu 10 atau 12 hari akan datang pasukan
yang lebih besar dibawah pimpinan Dipati Madurareja, Dipati Upasanta, Dipati
Tohpati, dan Tumenggung Anggabaya kemudian akan datang pula pasukan yang sama
besarnya di bawah pimpinan pangeran Adipati Juminah, tapi dalam keadaan
berikutnya diterangkan bahwa tentara Baurekasa dipukul mundur dan tercerai
berai bahkan peminpinnya pun gugur dalam pertempuran itu, VOC mengira mereka
telah bebas dari musuh tetapi setelah pasukan Baureksa hancur, muncullah
tentara kedua yang lebih besar panglima tertingginya adalah Tumenggung Sura
Agulagul. Ia berusaha membelokkan arah aliran sungai dan memaksa orang yang
terkepung untuk menyerah pada Mataram. Tapi semua usaha ini sia-sia, pasukannya
sendiri banyak yang mati karena penyakit dan kelaparan. 3 desember dia
membubarkan pengepungannya dan membunuh panglima-panglima bawahannya yaitu
Dipati Madurareja dan Dipati Upasanta bersama dengan orang-orangnya[9].
Kita kembali pada pernyatan awal,21 oktober 1628 hampir seluruh pasukan VOC di
Batavia dikerahkan untuk
Melakukan
serangan pada Mataram, kekuatan pasukan VOC itu sekitar 2.866 serdadu.
Komandannya Letkol Jacques le Febvre. Pasukan kompeni dibagi menjadi beberapa
kelompok pasukan yang bertugas menyerang pasukan Ukur dan Sumedang antara
ialah:
1.
Pasukan berkluda berjumlah 4 orang menyerang dari arah barat laut
2.
Pasukan Avantrgarde, terdiri atas 3 regu yang dipimpin oleh, Kapten Dietloff
Specht, ghysbert van Lodensteynx dan kapten Andrian Anthonisz, komandan
gernisun benteng Batavia.
3.
Batalion di bawah Mayor Vogel
4.
Pasukan Arrieregarde
5.
Pasukan orang-orang merdeka dan orang Jepang.
Pasukan
Ukur dan Sumedang lah yang pertama kali mendapat serangan setelah itu maka
dilanjutkan menyerang pasukan Baureksa seperti yang telah dijelaskan di atas,
pasukan Ukur dan sumedang mendapat serangn dari berbagai arah, mendapat serangn
yang begitu dahsyat dan teratur pasukan Ukur dan Sumedang terpuruk mereka
mundur demi mencari keselamatan Tumenggung Baureksa pun tidak bisa berbuat
banyak demi membantu pasukan Ukur dan Sumedang karena posisinya pun sedang
dalam keadaan terjepit akibat serangan pihak VOC,akhirnya kubu pertahanan
baureksa dapat direbut oleh VOC dan para pemimpinnya tewas termasuk Baureksa
dan anaknya11, seperti yang telah disebutkan pada informasi di atas.kegagalan
demi kegagalan yang terjadi di pihak Mataram tidak lebih karena kurangnya
persiapan dan juga terbatasnya bahan makanan juga serangan penyakit pada
pasukan Mataram. Berhubung karena kegagalan ini maka atas dasar hukum
yang berlaku di Mataram sejumlah pimpinan seperti yang telah dijelaskan di atas
yaitu pangeran Madurareja dan Upasanta dihukum mati, dengan demikian serangan
pertama mengalami kegagalan.
c.
Jalanaya
Perang Kedua (1629)
Setelah
mengalami kekalahan pada serangan yang pertama(1628),dari VOC di Batavia,
Mataram kembali berencana melakukan serangan yang kedua, maka persiapan pun
dilakukan, bahkan dikatakan pasukan Mataram telah menyiapkan perbekalan
logistik para prajurit di tempat-tempat tertentu dalam perjalanan ke Batavia.
Pasukan Mataram berangkat dalam 2 gelombang, pertama berangkat akhir mei 1629
dan yang kedua 20 juni 1629, Agustus pasukan Mataram telah tiba di Batavia.
Pada tanggal 20 juni 1629 tersebut ada kejadian penting yang akan merubah
jalannya cerita kemenangan pasukan Mataram dalam menghadapi VOC, yaitu, seorang
Mataram bernama Warga, beserta beberapa orang pengikutnya, sebenarnya tugas
mereka adalah sebagai mata-mata Mataram itu sendiri, namun dalam kenyataannya,
pihak VOC mencurigai aksi para utusan Mataram ini, dalam sebuah sumber
disebutkan bahwa Warga bertugas untuk meminta maaf kepada kompeni mengenai hal
yang telah terjadi. Sementara orang-orang mataram mengumpulkan padi di Tegal,
padi tersebut akan ditumbuk di Tegal dan diperdagangkan di Batavia, inilah cara
Mataram membawa beras ke Batavia, namun salah seorang anak buah Warga ini
membocorkan rahasia dan siasat ini, maka pada waktu Warga datang ke Batavia
yang kedua kalinya, ia ditanggap dan diinterogasi dan ditanyai perihal
kebenaran beriat bahwa mataram akan melakukan serangan yang kedua kali, rahasia
ini dibenarkan oleh warga sehingga VOC membakar semua persediaan beras pasukan
mataram yang ada di Tegal dan Cirebon[10],
maka otomatis persiapan yang telah matang sebelumnya akan berdampak besar pada
kemenangan pihak mataram, karena hal ini berurusan dengan logistic pasukan
Mataram.8 september 1629 pasukan mataram mengagali parit pertahanan yang dilindungi
kayu dan bamboo, parit ini digali dari markas pertahanan pasukn mataram menuju
benteng VOC ”HOLANDIA”, namun seperti biasa VOC selalu bisa menggagalkan proyek
pertahanan Mataram tersebut, kelompok lain yang juga berusaha merongrong
pertahanan VOC, menyerang benteng “BOMMEL” beberapa prajurit berusaha masuk ke
benteng untuk membuka pintu benteng, namun sebelum hal itu terjadi pasukan VOC
telah menembaki prajurit mataram tersebut, pasukan Mataram berencana menyerang
tembok benteng VOC dengan serangan meriam Mataram, namun pasukan VOC dibawah
pimpinan Antonio van Diemen bias mengatasi serangan itu dan melakuakn serangan
balik pada pasukan Mataram, dalam beberapa sumber juga disebutkan bahwa pada
tanggal 20 September 1629 gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia
karena serangan penyakit[11].
Pada tanggal 20 september 1629 terjadi serangan besar-besaran pasukan Mataram
dan serangn puncak, serangan ini tertuju pada benteng Weesp, banyak pasukan
Matram tertawan oleh pasukan VOC, maka pada suatu saat tawanan pasukan VOC
sudah terlalu banyak yang tentunya menambah dana logistic VOC, maka diputuskan
untuk menghentikan penawanan, kegagala pada serangan puncak ini akan berakibat
pada hilangnya semangat juang para prajurit Mataram ini, tapi sebenarnya akibat
kekalahan tentara Mataram terletak pada kurangnya bahan makanan atau logistic
pasukan Mataram, pada umumnya tentara Mataram mengalami kelaparan, bahkan
disebutkan banyak yang meninggalkan arena peperangan karena kelaparan[12].
C. DAMPAK DARI PERANG MELAWAN VOC
a.
Munculnya pemberontakan yang diakibatkan dari kekalahan atas VOC
Sultan
Agung pantang menyerah dalam perseteruannya dengan VOC Belanda. Ia
mencoba menjalin hubungan dengan pasukan Kerajaan Portugis untuk
bersama-sama menghancurkan VOC. Namun hubungan kemudian diputus
tahun 1635 karena ia menyadari posisi Portugis saat itu sudah lemah. Kekalahan
di Batavia menyebabkan daerah-daerah bawahan Mataram berani
memberontak untuk merdeka. Diawali dengan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok ulama di Tembayat yang
berhasil ditumpas pada sekitar tahun 1630.
Kemudian Sumedang dan Ukur memberontak
tahun 1631. Sultan Cirebon yang masih setia berhasil
memadamkan pemberontakan Sumedang tahun 1632. Pemberontakan-pemberontakan
masih berlanjut dengan munculnya pemberontakan Giri Kedaton yang
tidak mau tunduk kepada Mataram. Karena pasukan Mataram merasa segan menyerbu
pasukan Giri Kedaton yang masih mereka anggap keturunan Sunan Giri, maka
yang ditugasi melakukan penumpasan adalah Pangeran
Pekik pemimpin Ampel. Pangeran Pekik sendiri telah dinikahkan
dengan Ratu Pandansari adik Sultan Agung pada tahun 1633.
Pemberontakan Giri Kedaton ini berhasil dipadamkan pasangan suami istri
tersebut pada tahun 1636.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam
masa Sultan Agung, seluruh Pulau Jawa sempat tunduk dalam
kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki
militer VOC Belanda. Sedangkan desa Banten telah
berasimilasi melalui peleburan kebudayaan. Wilayah di luar Jawa yang berhasil ditundukkan oleh
Kasultanan Mataram adalah Palembang di Sumatra pada tahun 1636 dan Sukadana di Kalimantan
tahun 1622. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatik
dengan Makassar, negeri terkuat di Sulawesi saat itu. Sultan
Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang tidak hanya
dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun
melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan
sistem-sistem pertanian. Bahkan pelabuhan dan juga perdagangan seperti di
Surabaya dan Tuban dimatikan dan ditutup , sehingga kehidupan
rakyat pada masa itu hanya bergantung pada sektor pertanian. Sultan Agung
menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Ia memadukan Kalender
Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang
masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa
Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung
juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra
Gending. Di lingkungan keraton Mataram, Sultan Agung menetapkan pemakaian bahasa
bagongan yang harus dipakai oleh para bangsawan dan pejabat demi untuk
menghilangkan kesenjangan satu sama lain. Bahasa ini digunakan supaya tercipta
rasa persatuan di antara penghuni istana. Menjelang tahun 1645 Sultan
Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana
Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-rajaKesultanan
Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat Sastra
Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram. Sesuai dengan
wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan
oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram selanjutnya,
bergelar Amangkurat I.
B.
SARAN
Walaupun
usahanya menyatukan nusantara dan melakukan penggusiran terhadap VOC gagal
namun semangatnya dalam nasionalisme cinta tanah air dan juga semangat juangnya
Menghadapi kekuatan asing patut dijadikan contoh pemimpin yang mampu membawa
sebuah negara Khususnya Indonesia keluar dari Belenggu asing dan Monopoli asing
seingga sikap maupun tindakan tindakan kepahlawananya patut dijadikan contoh
calon pemimpin masa depan Indonesia yang mempunyai integritas dan rasa cinta
Tanah air yang tinggi. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi
kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.
Atas
jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan
menjadi pahlawan nasional
Indonesia berdasarkan S.K. PresidenNo. 106/TK/1975
tanggal 3 November 1975. Sehingga hal ini menjadi bukti nyata bahwa
kepemimpinanya atas mataram sarat penuh makna dan juga kebanggakan bangsa atas
lahirnya putra nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku :
Djadjadiningrat,
Hosein.1983.TINJAUAN KRITIS SEJARAH BANTEN .Jakarta: Djambatan
Kartodirjo,
Sartono.Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto.1975.SEJARAH
NASIONAL
INDONESIA III. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional
Ricklef,
M.C.1989. SEJARAH INDONESIA MODERN. Terjemahan Drs.Dharmono Hardjowidjono. Jogjakarta:
Gajah Mada University press
SEJARAH PERLAWANAN
terhadap IMPERIALISME dan KOLONIALISME di daerah JAWA
BARAT, Departemen Pendididikan dan Kebudayaan .Direktorat sejarah dan
Nilai tradisional. Jakarta 1990
Sumber Internet :
[1] SEJARAH
PERLAWANAN terhadap IMPERIALISME dan KOLONIALISME di DAERAH JAWA BARAT hal,
22-23
[2] SEJARAH
PERLAWANAN terhadap IMPERIALISME dan KOLONIALISME di daerah JAWA BARAT
hal.22-24
[3] M.C
Ricklefs , Sejarah Indonesia Modern hal 68-69
[4] Sartono
Kartodirjo, Sejarah Nasional Indonesia jilid III hal 362-363
[5] M.C
Ricklefs Sejarah Indonesia Modern hal 69
[6] SEJARAH
PERLAWANAN terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di jawa Barat hal,26-27
[7] Sejarah
Nasional Indonesia jilid III hal 363-365
[8] Sejarah
Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di jawa Barat, hal 29-30
[9] Tinjauan
kritis tentang Sejarah Banten, Hosein djadjadiningrat, hal 185-187
[10] .Sejarah
Nasional Indonesi jilid III hal 366-367
[11] .Sejarah
Nasional Indonesi jilid III hal 366-367
[12] sejarah
perlawanan terhadap Imperialisme dan kolonialisme di Jawa Barat hal,
36-37