BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Folklor Indonesia adalah sebagian dari kebudayaan indonesia yang tersebar
dan diwariskan turun-temurun secara tradisional di antara anggota-anggota
kolektif apa saja di Indonesia, dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam
bentuk lisan maupun tulisan, maupun contoh yang disertai dengan perbuatan dan
alat-alat bantu pengingat (mnemonic devices) (Danandjaja, 1985::459-495,
pada Sulastin Sutrisno, dkk. eds: 460). Penelitian ini akan membahas tentang
tradisi dalam pesta rakyat tergolong dalam foklor sebagian lisan (partly
verbal).
Tradisi sendiri
memiliki pengertian sebagai cara mewariskan pemikiran, kebiasaan, kepercayaan,
kesenian dari generasi ke generasi, dari leluhur ke anak cucu secara lisan.
Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia yang mempunyai obyek material,
kepercayaan, khayalan, kejadian atau lembaga serta diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya (Koentjaraningrat. 1990:45). Dari pengertian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah suatu pemikiran atau
kepercayaan turun-menurun dari nenek moyang, sehingga harus dijaga dan
dilestarikan, atau setidaknya kita harus paham arti dari tradisi tersebut.
Dalam kehidupan di jawa, Khususnya daerah wonogiri dalam hal ini berada di
sekitar kawasan hutan jati Donoloyo, desa Watusomo, kecamatan Slogohimo ,
Kabupaten Wonogiri. Memiliki sebuah tradisi yang dalam bahasa warga sekitar
dinamai tradisi nyadran, nyadran yang dalam pengertian jawa kebanyakan adalah kegiatan tahunan yang merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan.
Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Nyadran dalam
tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan-bulan tertentu, seperti menjelang
bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau Ruwah. Sedangkan di sini pengertian nyadran untuk
alas donoloyo berbeda Upacara nyadran di sini dilakukan setiap hari jumat di
Punden jati donoloyo yang di pimpin oleh Mbah Dikromo selaku juru kunci punden Donoloyo yang di
keramatkan.
Perbedaan inilah yang menarik Penulis untuk membahas tentang makalah yang di beri judul Tradisi Nyadran di
punden donoloyo dalam kehidupan Masyarakat desa Watusomo Kecamatan Slogohimo
Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan
diatas maka masalah yang hendak diteliti adalah :
1.
Bagaimana
proses terjadinya tradisi
Nyadran di Hutan Jati Donoloyo ?
2.
Bagaimana Proses Pelaksanaan Tradisi Nyadran di
Hutan Jati Donoloyo ?
C. TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk
mengetahui Proses terjadinya Prosesi tradisi Nyadran di Hutan
Jati Donoloyo !
2.
Untuk
mengetahui Prosesi Tradisi
jawa Nyadran di Hutan Jati Donoloyo, Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo,
Kabupaten Wonogiri ?
D.
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan bentuk penelitian ini, maka metode
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Wawancara mendalam
Adalah cara pengumpulan data
dilakukan dengan teknik percakapan dengan informan dengan maksud untuk mencari
informasi yang berkaitan dengan kajian dalam penelitian ini. Percakapan itu
dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan
dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Dalam
hal ini penulis mewawancarai :
1. Mbah Dikromo ( Juru Kunci Punden donoloyo
)
2. Ibu Kamijem ( Warga sekitar )
3. Ibu Satiyem ( Warga sekitar )
4. Bapak Karsimin ( Warga sekitar )
b.
Observasi
Observasi adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan maupun
pencatatan secara langsung tehadap segala hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan
yang diteliti. Observasi memungkinkan melihat dan mengamati sendiri perilaku dan kejadian sebagaimana keadaan sebenarnya. Dalam
penelitian ini penulis yang secara kebetulan sebagai Warga Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten
Wonogiri sehingga merasakan sendiri dan juga melihat secara langsung terhadap
kondisi nyadran dan mengembangkan berdasarkan penelitian langsung maupun tak
langsung yang sedianya berhubungan dengan penelitian dalam pembuatan makalah
ini.
c.
Metode analisis data
Setelah data
terkumpul, maka data tersebut akan dianalisis dengan mengunakan metode analisis
induktif dan analisis deduktif. Analisis induktif yaitu analisis yang
berpangkal pada kaidah-kaidah yang khusus kemudian disusun perumusan yang
bersifat umum. Sedangkan analisis deduktif yaitu analisis yang berpangkal dari
kaidah-kaidah yang sifatnya umum, kemudian ditetapkan kepada kaidah-kaidah yang
sifatnya khusus. (Sutrisno hadi, 1989: 42).
Setelah data terkumpul disini penulis
menganalisis data dan menyusun dari hasil observasi serta dari materi
pendukung-pendukung lainya seperti buku dan internet.
BAB
II
DESKRPSI
HASIL PENELITIAN
A. Sejarah Hutan
Jati Donoloyo
Pada mulanya Alas Donoloyo adalah nama sebuah
hutan yang berada di tepian hulu Bengawan Solo. Kemudian nama inilah yang
digunakan oleh masarakat sekitar hutan itu untuk menyebut seorang laki-laki
yang terkenal santun dan bijak lagi sakti yang kemudian babat alas (membabat
hutan) untuk ia diami kelak bersama keluarganya. Orang-orang sekitar hutan itu
menyebutnya Ki Ageng Donoloyo. Ki
Ageng (sebutan untuk orang yang dihormati di suatu desa) Donoloyo adalah
seorang laskar Majapahit yang tertinggal dari pasukannya di daerah Wonogiri
sebelah timur, tepatnya di desa Sambirejo kecamatan Slogohimo sehingga ia
memutuskan untuk tidak kembali dan menetap di wilayah itu (ada yang berpendapat
hal ini diperkirakan oleh pengaruh raja mereka, Airlangga yang memutuskan
meninggalkan kerajaan untuk mencari keabadian dengan bertapa, namun ada pula
versi lain yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak pulang ke Majapahit akibat
terjadi peperangan saudara dan desakan dari kerajaan Islam Demak).
(Menurut
versi lain pula banyak orang mengatakan bahwa Ki Ageng masih kerabat dekat
dengan Airlangga, penguasa Majapahit ketika itu yang mana kemudian memberikan
sebuah wilayah untuk dikembangkan menjadi sebuah desa layaknya Gajah Mada).
Ketika tertinggal ia tidak sendiri melainkan ia bersama seorang laskar lain
yang kelak dinamakan oleh orang-orang sekitarnya dengan nama Ki Ageng Sukoboyo.
Namun kemudian mereka memutuskan untuk berpisah mencari wilayah sendiri-sendiri
untuk mereka jadikan tempat menepi dan kelak pada akhirnya berkeluarga. Ki
Ageng Donoloyo menuju ke selatan sementara Ki Ageng Sukoboyo menuju ke utara di
hutan Sukoboyo setelah terjadi pertengkaran kecil di tengah-tengah wilayah yang
kemudian kelak mereka diami. Ki Ageng Sukoboyo mempunyai watak yang keras
sementara Ki Ageng Donoloyo sebaliknya.
Setelah beberapa tahun kemudian Ki Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.Masalah kedua pun muncul (kelak masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu. Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti mengeluarkan sinar. Terbersit kemudian dalam hatinya untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia mendapatkan tolakan. Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu. Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).Sesampainya di tengah perjalanan ia tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo) meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo hari.
Dan sampailah satu purnama itu, Ki Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.
Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.Sampailah kemudian ia di hutan Denok (sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin) yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati). Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama. Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah alun-alun Demak.Maka semenjak itulah ketika jati Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung (santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.Konon pula kemudian Jati yang berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta). Jati Cempurung dan Masjid Demak Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.
Hingga pada akhirnya datanglah utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun menyanggupinya.Raden Patah pun mengutus beberapa dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden) ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk. Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.
Setelah beberapa tahun kemudian Ki Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.Masalah kedua pun muncul (kelak masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu. Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti mengeluarkan sinar. Terbersit kemudian dalam hatinya untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia mendapatkan tolakan. Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu. Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).Sesampainya di tengah perjalanan ia tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo) meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo hari.
Dan sampailah satu purnama itu, Ki Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.
Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.Sampailah kemudian ia di hutan Denok (sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin) yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati). Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama. Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah alun-alun Demak.Maka semenjak itulah ketika jati Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung (santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.Konon pula kemudian Jati yang berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta). Jati Cempurung dan Masjid Demak Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.
Hingga pada akhirnya datanglah utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun menyanggupinya.Raden Patah pun mengutus beberapa dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden) ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk. Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.
(sumber
: http://philosophia-boemibatja.blogspot.com/2009/02/) Cerita diambil
karena paling sesuai dengan cerita Folklore Rakyat di Sekitar Hutan jati
Donoloyo yang cocok dan paling banyak di ketahui Masyrakat sekitar yang umum nya sudah tua dan tahu dari nenek ,
Buyut mereka. Nama Tempat dan alur cerita sesuai dengan kenyataan. Yang
berkembang.
B.
Munculnya Tradisi Nyadran di Hutan jati Donoloyo
Tradisi nyadran merupakan simbol adanya
hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Nyadran
merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan dengan
nilai-nilai Islam, sehingga tampak adanya lokalitas yang masih kental dengan
nuansa Islami.
Adakalanya suatu
tradisi dianggap sebagai bagian dari ritual agama tertentu, yang sejatinya
berasal dari agama lain (Hindu), misalnya ritual Nyadran. Nyadran
adalah tradisi lama yang sampai saat ini masih sering dilakukan masyarakat ,
khususnya masyarakat Jawa . Di tengah era modern dan teknologi informasi yang
sangat pesat, tradisi Nyadran masih tetap eksis .
Bagi masyarakat
Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan
merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka
menziarahi makam para leluhur. Ritus ini dipahami sebagai bentuk pelestarian
warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran
dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang
bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau Ruwah
(de-kill.blogspot.com, 2009). Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama,
dan Yang Mahakuasa atas segalanya.
Dalam padangan agama mayoritas di negeri ini , ritual nyadran
masih pro dan kontra , antara sejalan dengan ajaran Islam atau tidak sejalan
dengan ajaran Islam. Apa mau dikata masyarakat tetap melaksanakan tradisi nenek
moyangnya.
Seorang ahli
menyatakan bahwa tradisi nyadran mempunyai kemiripan dengan sraddha
pada masa kerajaan Majapahit. Kemiripan tersebut terlihat pada kegiatan manusia
“berinteraksi” dengan leluhur yang telah meninggal, seperti pengorbanan,
sesaji, dan ritual sesembahan yang hakikatnya adalah bentuk penghormatan
terhadap yang sudah meninggal (Fandy Hutary, www.goodreads.com, 2010).
Menurut
wikiepedia ritual Nyadran merupakan berasal dari tradisi Hindu yaitu Upacara
Sraddha , “Upacara sraddha adalah upacara umat Hindu di pulau Jawa
zaman dahulu kala untuk mengenang arwah seseorang yang meninggal. Bentuk
reminisensi upacara ini, masih ada sekarang dan disebut sadran dengan bentuk verba
aktif nyadran”. Pada dasarnya upacara Sraddha didalam tradisi veda
yaitu bertujuan untuk memuja leluhur. Di Bali sampai sekarang pemujaan leluhur
masih sangat eksis yang disebut Pitra Yadnya. di Bali barat upacara sraddha
ini dilakukan pada Tumpek Kuningan dengan mempersembahkan ritual di
kuburan. Istilah yang serupa yang juga mirip dengan ritual Nyadran di India
diesebut Upacara Sraddha, Pindaan, dan Tarpana . demikian
pula halnya di Bali disebut Tarpana.
Tradisi sraddha
bersumberkan dari kitab-kitab Hindu , seperti : Manu Smerti (Manawa
Dharmasastra), Garuda Purana, Yama Smerti, Atharva Veda dan markandeya Purana,
dll. Didalam Brahmapurana dikatakan bahwa pada bulan mati Ashvin, Yama (bhatara
Yama) membebaskan semua jiwa sehingga mereka bisa mengunjungi anak-anak mereka
untuk menerima makanan yang ditawarkan dalam upacara sraddha. Mereka yang tidak
mempersembahkan makanan kepada leluhur mereka selama periode ini akan
mendapatkan kutukan dari leluhur . generasi berikutnya mungkin akan menderita
karena kesalahan ini. Uapcara sraddha juga biasanya dilaksanakan pada hari
peringatan kematian seseorang (donder, 2010:428).
Didalam Manawa
dharmasastra diuraikan secara panjang lebar tentang aturan upacara sraddha
tersebut, termasuk pula larangang-larangan, misalnya pada sloka 249 Trityo
dyayah (Manu Smerti 3.249) yang berbunyi;
Sraddham
bhuktvaya ucchi-stam vrsalaya prayhacchati, sa mudho narakam yati kala sutram
avaksirah.
Artinya: orang
bodoh yang setelah makan makanan sraddha,memberikan sisanya kepada seorang
sudra (pelayan), jatuh kedalam neraka kala sutra (Pudja,2004:153)
Pahala
melaksanakan upacara sraddha sangat mulia. didalam Garuda Purana dikatakan :
“Bila sraddha dilaksanakan dengan memuaskan, yang meninggal akan
menganuggerahkan keturunannya dengan usia panjang, anak laki-laki, ketenaran,
pembebasan, surga, keagungan, stabilitas, kekuatan, kemakmuran, ternak,
kebahagiaan, uang, pertumbuhan, dan berkah abadi”.
( sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/10/ritual-nyadran-berasal-dari-tradisi-veda-476691.html )
Terlepas dari beberapa pengertian nyadran tadi di
hutan jati donoloyo sendiri tradisi ini munkin terpengaruh dari kesaktian dan
kebijaksanaan dari Ki Ageng Donoloyo sendiri yang akhirnya memberikan presepsi
dan pandangan terhadap ki ageng sendiri bahwa beliau adalah pendiri dan leluhur yang paling di hormati di daerah Hutan jati
Donoloyo. perangaianya yang baik dan bijaksana dapat dilihat dari cerita rakyat
dan pandangan rakyat sekitar bahwa ki ageng sendiri masih berada di sekitar
warga dan mampu menolong dan melindungi warga sekitar dari Bahaya dan Pageblug
yang terjadi sehingga hal ini menimbulkan presepsi bahwa ki ageng Donoloyo
sebagai sesuatu pengantar dan pelindung warga sekitar sehingga Ritual nyadran
adalah sarana untuk berdoa dan bertrima kasih warga atas hadirnya ki ageng di
kehidupan mereka. Terlepas dari kenapa harus nyadran hal ini di ungkapkan dari
peberapa asal-usul nyadran tadi bahwa tradisi nyadran adalah peningalan nenek
moyang kita dan berasal dari agama Hindu dan menurut dari cerita bahwa Ki Ageng
Donoloyo sendiri Hidup semasa dengan
kerajaan Majapahit sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa tradisi ini
sejatinya adalah peningalan masa hindu Majapahit dan jawa kuno .sehingga dapat
di tarik kesimpulan ketika Ki Ageng
Donoloyo Wafat atau Moksa tadi Para masyarakat terdahulu melakukan upacara
Nyadran dalam upaya unuk menghormati dan menghargai Ki Ageng Donoloyo sebagai
leluhur Mereka. dapat ditarik kesimpulan bahwa tadisi nyadran di donoloyo sudah
berusia sangat lama bahkan sampai Ratusan tahun
sehingga upacara nyadran di Hutan Jati Donoloyo sendiri memiliki
perbedaan dari pengertian Nyadran di beberapa daerah seperti Yogjakarta,
Boyolali dan Surakarta . Sehinga Nyadran yang pengertian umumnya sebagi bentuk
bersyukur dan menghormati leluhur Dan hanya di lakukan di bulan-bulan tertentu
berubah menjadi sarana untuk berdoa dan bersukur terhadap leluhur yang
dilakukan setiap hari jumat.yang mana pada hari jumat menurut beberapa orang
dan sesepuh adalah hari yang paling baik dan keramat, terlebih pada hari jumat
Kliwon dan Pon. Antusias warga banyak sekali bahkan melebihi dari jumlah
Nyadran pada jumat biasa.
Mulai munculnya nyadran
ini secara pasti belum dapat diketahui hal ini dapat menjadikan polemik sendiri
karena menurut sumber dan cerita bahwa Mbah dikromo yang sekarang menjadi
jurukunci generasi ke dua .tapi menurut kesimpulan yang saya buat di atas tadi
bahwa tradisi nyadran adalah
peningalan nenek moyang kita dan berasal dari agama Hindu dan menurut dari
cerita bahwa Ki Ageng Donoloyo sendiri Hidup
semasa dengan kerajaan Majapahit sehingga dapat di tarik kesimpulan
bahwa tradisi ini sejatinya adalah peningalan masa hindu Majapahit dan jawa
kuno .sehingga dapat di tarik kesimpulan ketika
Ki Ageng Donoloyo Wafat atau Moksa tadi Para masyarakat terdahulu
melakukan upacara Nyadran dalam upaya unuk menghormati dan menghargai Ki Ageng
Donoloyo sebagai leluhur Mereka. dapat ditarik kesimpulan bahwa tadisi nyadran
di donoloyo sudah berusia sangat lama bahkan sampai Ratusan tahun sehingga upacara nyadran di Hutan Jati
Donoloyo sendiri memiliki perbedaan dari pengertian Nyadran di beberapa daerah
seperti Yogjakarta, Boyolali dan Surakarta .
C. Gambaran proses Tradisi Nyadran di hutan
Jati Donoloyo.
Proses tradisi nyadran dilakukan
perorangan dengan cara datang sendiri ke Hutan jati Donoloyo dengan membawa
Makanan dan atau membawa hewan Kurban dan Uang pada hari Jumat. berikut data
dan klasifikasi tentang Nyadran di Hutan Jati Donoloyo :
A. Waktu Nyadran
·
Penyadranan
dimulai dari pagi jam 08.00 – 12.00 pada
hari jumat.
B. Jenis Makanan :
·
Nasi
½ baskom
·
Ayam
Kampung Panggang 1 ekor
·
Serundeng ( parutan kelapa muda yang diberi gula jawa )
·
Kacang
tholo
·
Gudangan
·
Aneka jenis kurapan
·
DLL
C. Jenis Non Makanan
·
Kambing
·
Sapi
·
Uang
·
Dll.
D. Cakupan peserta Nyadran
Ø Warga sekitar meliputi :
Ø Daerah sekitar seperti Desa Watusomo,
Padarangin, Pandan , Sambirejo dll.
Ø Daerah lain luar daerah di atas yang masih
masuk dalam Kecamatan Slogohimo.
Ø Daerah luar kecamatan Slogohimo seperti
Kecamatan Jatisrono , Purwantoro, Jatiroto dan Kismantoro.
Ø Warga luar daerah meliputi :
Ø Surakarta
Ø Karanganyar
Ø Ponorogo
Ø Bahkan pernah dari Lampung
Deskripsi Hasil Obsevasi tentang Ritual tradisi
Nyadran :
Nyadran adalah sebuah tradisi yang identik dengan makanan dan
acara/ritual berdoa . di punden donoloyo sendiri masyarakat yang sedianya akan
melakukan acara ini datang semestinya dengan Makanan dan Bunga tuju rupa tidak
lupa juga beberapa Kemenyan sebagai alat dalam ritual nyadran.
Prosesi Nyadran akan di bagi menjadi beberapa
tahap seperti di bawah ini :
1. Tahap Pertama
Penyadran menyetorkan Makanan pada pendopo yang akan di gunakan utuk
Kondangan ( Acara untuk saling berbagi ke semua pengunjung Alas Donoloyo baik
yang sengaja datang ataupun tidak dengan cara seperti tradisi Kenduri dalam hal
ini seperti pemberian bingkisan yang berisi makanan yang telah di bawa para
penyadran tadi) makanan tadi yang dibawa di bagi menjadi beberapa bingkis (
warga sekitar menamai Berkat ) lalu dikumpulkan seperti gambar. Makanan yang
dibawa tentunya tidak semua di ambil hanya sebagian utamanya 1/3 di berikan
kembali pada para penyadran .untuk keterangan lebih lanjut dapat di jelaskan di
sesi berikutnya.


2. Tahap Kedua
Para penyadran masuk ke wilayah Punden yang menurut cerita adalah makam
Dari Ki Ageng Donoloyo. di situ ada juru kunci Mbah Dikromo yang secara
langsung akan memimpin acara penyaluran Doa
biasanya para penyadran menyampaikan keinginan-keinginan yang akan di
harapkan kepada mbah dikromo .lalu kemudian mbah dikromo melakuakan ritual
seperti membakar kemenyan dan mencelupkan air bunga setaman dalam meberikan
sebagian untuk di bawa pulang para penyadran untuk orang-orang dirumah untuk di usap-usapkan di wajah. Bentuk
upacara dapat dilihat melelui gabar seperti dibawah ini :


3. Kondangan Atau Kendurian
Setelah nasi (Berkat) yang di kumpulkan
di pendopo sudah banyak maka prosesi kendurian prosesi terakir ini juga akan di
laksanakan. prosesi ini sama dengan
prosesi kendurian pada umumnya dan dipimpin olek Mbah Dikromo sendiri.
Para penyadran diwajibkan mengikuti acara terakir yaitu Kondangan ini
setelahnya di wajibkan segera pergi. Setelahnya para penyadran mengambil Baskom
Makanan ya sendiri-sendiri dan mengambil sebagian nasi Berkat yng telah di doai
di dalam Kondangan tadi dan setelahnya pulang. Prosesi Kendurian ini
dilaksanakan supaya tidak terjadi antrean dan penjumlahan yang terlalu banyak
maka akan dlaksanakan 2 kloter Penyadranan.
Prosesi kendurian dilaksanakan pada jam 09.30 WIB dan11.00 WIB untuk kloter
ke dua.
Untuk orang yang mengorbankan
hewan sembelihan biasanya juga akan dimasak lalu dibagi bagikan seperti di atas
dalam format Berkat. Biasanya format penyembelihan, pencucuian dam proses
pemasakan dilakukan di belakang pendopo yang ada dapur serta sumur atau kalau
mencucui di bawah nya ada sungai. Untuk proses kendurian biasanya di mulai
sampai selesai Biasanya jam 12.00 Wib sudah selesai. Untuk format penyadranan
ini biasanya di laksanakan pada hari jumat Pon saja. Kalau pada hari jumat
biasa seperti biasanya yang telah dijelaskan di atas tadi.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan data-data yang diperoleh
penulis maka terjawablah permasalahan-permasalahan yang diteliti oleh penulis
tentang Tradisi Nyadran di punden donoloyo dalam kehidupan Masyarakat desa Watusomo
Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. Jawaban-jawaban tersebut
dapat diurikan sebagai berikut :
v Bahwa tradisi nyadran adalah peningalan nenek
moyang kita dan berasal dari agama Hindu dan menurut dari cerita bahwa Ki Ageng
Donoloyo sendiri Hidup semasa dengan
kerajaan Majapahit sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa tradisi ini
sejatinya adalah peningalan masa hindu Majapahit dan jawa kuno. Sehingga dapat
di tarik kesimpulan ketika Ki Ageng
Donoloyo Wafat atau Moksa tadi Para masyarakat terdahulu melakukan upacara
Nyadran dalam upaya unuk menghormati dan menghargai Ki Ageng Donoloyo sebagai
leluhur Mereka. dapat ditarik kesimpulan lagi bahwa tadisi nyadran di donoloyo sudah berusia
sangat lama bahkan sampai Ratusan tahun
sehingga upacara nyadran di Hutan Jati Donoloyo sendiri memiliki
perbedaan dari pengertian Nyadran di beberapa daerah seperti Yogjakarta,
Boyolali dan Surakarta .
v Bahwa tradisi nyadran adalah sebuah tradisi yang identik dengan
acara/ritual berdoa. di punden donoloyo sendiri masyarakat yang sedianya akan
melakukan acara ini datang semestinya dengan mebawa Makanan dan Bunga tuju rupa
tidak lupa juga beberapa Kemenyan sebagai alat dalam ritual nyadran. Sehingga
selain dapat digunakan untuk menyalurkan permohonan melalui makam ki ageng
donoloyo ini ritus ini juga mencerminkan bentuk alkulturasi budaya asli
Indonesia khususnya Jawa dengan budaya baru yang lebih modern dan masuk akal.
A.
SARAN
Setelah melakukan penelitian dan memperhatikan
kesimpulan dari makalah Tradisi Nyadran di punden donoloyo dalam kehidupan
Masyarakat desa Watusomo Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya.
Maka penulis dapat
memberikan saran sebagai berikut :
1.
Kepada
masyarakat desa Watusomo dan sekitarnya supaya dapat selalu setia menjaga
Budaya Nyadran ini supaya keindahan, kesenian, dan kebersamaan dalam
mengupayakan tradisi nyadran dapat selalau dinikmati dari generasi ke generasi.
2.
Kepada
Pemerintah daerah dan dinas Terkait supaya mengupayakan suatu program yang
sesuai dengan budaya nyadran dan pelestarian lingkungan hutan di sekitar punden
jati Donoloyo supaya terjaga ke asrianya.
3.
Kepada
Pemerintah daerah dan dinas terkait kususnya DPU supaya memberikan alokasi
untuk memperbaiki jalan menuju ke Hutan Jati Donoloyo ynag sudah rusak parah
sejak beberapa tahun ini. Karena perkembangan bahwa tradisi ini sudah mulai
diminati oleh warga luar daerah.
4.
Kepada
Pemerintah Dan dinas Terkait Khususnya Pariwisata supaya meluncurkan program
Religi Tradisi Nyadran untuk memberkaya budaya asli daerah dan mampu
meningkatakan pendaapatan walaupun tidak
seberapa.
Dari penulis menyadari banyaknya kekurangan
daam menjelaskan tentang Tradisi Nyadran di punden donoloyo dalam kehidupan
Masyarakat desa Watusomo Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya
sehingga penuis mengharapakan adanya penelitian yang lebih detil dan rinci
tentang tradisi ini supaya mudah dipahami oleh semua orang.
DARTAR PUSTAKA
Kuntarto, Niknik M. 2010. Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam
Berfikir. Jakarta: Mitra Wacana
Media
Thohir, Mudjahirin. 2009. Metodologi Penelitian Folklor.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
http://eprints.undip.ac.id/39351/1/69-79_(BU_RUKIYAH).doc
http://www.sastrajawa.com/teori-mitologi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar